Hakikat Pendidikan

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup suatu bangsa. Dalam rangka mewujudkan pembangunan Nasional maka dalam sistem pendidikan dicantumkan bahwa  pendidikan Nasional adalah erupkan suatu bentuk usaha bangsa Indonesia untuk  membentuk manusia Pancasila sebagaimanusia pembangunan yang tinggi  kualitasnya dan memiliki kemampuan untuk mandiri dan bertanggung jawab serta pemberian dukungan  bagi perkembangan masyarakat  bangsa dan negara Indonesia yang terwujud dalam ketahanan Nasional  yang tangguh dan emngandung  terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, faham dan ideologi yang bertentangan dengan Pancasila (UU Sistem Pendidikan Nasional, 1989). Dengan demikian dapat difahami bahwa sesungguhnya pendidikan adalah merupakan usaha sadar yang dilaksanakan untuk memungkinkan manusia Indonesia dapat mempertahankan  dan mengembangkan kehidupannya dimasa yang akan datang serta mengembangkan diri secara terus menerus dari satu generasi kegenerasi lainnya. Pendidikan kemudian berarti sebagai salah satu bentuk upaya dalam pembangunan yang  sekaligus menjadi alat  dan tujuan yang amat penting dalam perjuangan mencapai cita-cita dan tujuan Nasional.

Bertanya mengenai hakikat pendidikan maka tidak lepas dari pertanyaan apa yang dimaksud dengan pendidikan. Dari berbagai macam pendekatan dan defenisi yang dikemukkantentang pendidikan maka secara geris besar defenisi pendidikan menggunakan dua pendekatan yaitu  pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologis atau metadisik. (Tilaar, 1999). Menurut Tilaar defenisi pendidikan dengan menggunakan pendekatan epistimologis adalah  akar atau kerangka ilmu pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebut sebagai bentuk upaya pencarian makna pendidikan sebagai ilmu  yang mempunyai obyek yang merupakan  dasar analisis yang akan membangun ilmu pengetahuan yang disebut sebagai ilmu pendidikan.. Dalam konteks tersebut maka pendidikan adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Dengan kata lain bahwa pendidikan adalah merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. (Tilaar, 1999)

Pendekatan ontologis atau metafisik mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah  suatu proses yang tidak dapat dilepaskan darihakekat kemanusiaan. Dalam pendidikan ini, menurut Tilaar maka keberadan peserta didik  dan pendidikan tidak lepas dari makna  keberadaan manusia itu  sendiri.
Menurut Drijarkara Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Jadi pendidikan tersebut dilakukan oleh mansuia-manusia dewasa  degan upaya yang sungguh-sungguh  serta strategi dan siasat  yang tepat demi  keberhasilan pendidikan tersebut. (Gunawan, 1986). Dengan demikian maka pendidikan adalah menjadi tanggung jawab orang dewasa terhadap generasi muda untuk mempersipakan generasi muda menjadi manusia pembangunan yang berkualitas.

Dari berbagai macam pengertian dan batasan tentang pendidikan maka secara umum dapat dikemukakan bahwa pendidikan adalah merupakan  usaha sadar mengembangkan eksistensi  peserta didik  yang memasyarakat,, berbudaya dalam kehidupan yang bedimensi, lokal, nasional dan internasional (Tilaar 1999).

Komponen Pendidikan

Secara umum menurut H.A. R. Tilaar hakikat pendidikan  mempunyai beberapa komponen sebagai berikut:

  • Pendidikan adalah merupakan suatu proses berkesinambungan
  • Proses Pendidikan berarti menumbuh kembangkan eksistensi manusia
  • Eksistensi manusia yang memasyarakat
  • Proses Pendidikan dalam masyarakat yang berbudaya
  • Proses yang memiliki dimensi ruang dan waktu
Sebagai suatu proses berkesinambungan pendidikan adalah merupakan  proses yang terimplikasi  bahwa dalam diri peserta didik  terdapat kemampuan yang imanen sebagai makhluk hidup dalam suatu masyarakat. Kemampuan tersebut berupa dorongan-dorongan, keinginan, elanvital yang ada pada manusia. Kemampuan tersebut sesungguhnya hanya dimiliki oleh manusia dan harus dikembangkan  dan diarahkan sesuai dengan niali-nilai yang hidup atau akan dihidupkan dalam  masyarakat.. Proses tersebut seharusnya adalah merupakan proses berkesinambunganyang terus menerus dalam arti bahwa  terdapat interaksi dengan lingkungannya yang berupa lingkungan keluarga, lingkungan manusia, lingkungan sosial dan lingkungan budaya. Proses pendidikan yang berkesinambungan berarti bahwa pendidikan manusia  tidak pernah berhenti ketika anak-didik menjadi dewasa tetapi akan terus menerus berkembang selama terdapat interaksi antara manusia dengan  lingkungan sesama manusia serta lingkungan alamnya.

Proses pendidikan sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan eksistensi manusia berati suatu bentuk interaktif. Interaksi tersebut tidak hanya dengan lingkungan manusia akan tetapi juga dengan alam dan dunia ide termasuk dengan Tuhannya. Eksistensi manusia sebagai makhluk berakal , bahwa dengan potensi tersebutyang dijadikan sebagai landasan pemiaan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Taggung jawab manusia yang ditumbuh kembangkan melalui proses pendidikan bukan hanya mempunyai dimensi lokal tetapi juga berdimensi nasional dan global

Eksistensi manusia yang memasyarakat bermakna bahwa proses pendidikan adalah merupakan upaya mewujudkan eksistensi manusia yangbermasyarakat. Proses tersebut tidak terjadi dalam keadaan vakum atau stagnasi tetapi terdapat unsur-unsur yang mempengaruhinya seperti  unsur ibu, orang tua pendidikan formal dan pendidikan non formal. Dengan kata lain manusia hanya eksis pada masyarakat danlingkungannya. Hal ini berarti bahwa  tujuan atau visi pendidikan  adalah kongruen dengan tujuan dan visi masyarakat dimana pendidikan tersebut berada. Karena pendidikan mengandalkan nilai hidup dalam masyarakat maka dengan sendirinya proses pendidikan  adalah penghayatan dan pengamalan nilai-nilai tesebut dalam masyarakat.

Proses pendidikan  dalam masyarakat yang berbudaya pun terkait dengan unsur pendidikan, dimana tata kehidupan dalam suatu masyarakat yang sarat nilai terbentuk karena tingkat pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat tertentu. Dengan demikian proses pendidikan didalam suatu masyarakat yang berpola pada kebudayaan harus mengembangkan unsur-unsur yang berupa penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai hidup , keteraturan, kedisiplinan para anggota masyarakat.

Dalam proses pendidikan bermasyarakat dan berbudaya yang terkait dengan dimensi waktu dan ruang harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan seluruh perubahan yang terjadi sebagai akibat dari perkebangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Betapa tidak dengan perubahan tersebut maka proses pendidikan yang berlangsung harus dapat memberikan jawaban alternatif dan mempersiapakan manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tesebut..

Dari beberapa komponen pendidikan tersebut yang secara holistik integratif berupaya mewujudkan konsep pendidikan secar autuh dalam proses pelaksanannya. Menurut Tilaar bahwa pengembangan manusia melalui pendidikan harus melihat manusia atau peserta didik sebagai makhluk yang dikaruniai potensi yang dapat dikembangkan sedemikian rupa baik sebagai individu ataupun sebagai masyarakat yang sekaligus dapat dimanivestasikan dalam kehidupan kemasyarakatannya.

0 comments:

Posting Komentar