Mahasiswa Islam (identitas dan Pergerakannya)

Pendahuluan

Suatu sub sistem penting dalam sistem masyarakat Indonesia adalah mahasiswa. Baik  dulu kini dan yang akan datang mahasiswa adalah pembawa dan sekaligus pemecah masalah kehidupan atau beberapa segi wawasan kehidupan yang dianggap rawan didalam dan diluar kampus. Tingkat peranannya sangat tergantung kepada sistem nilai yang dianut dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi  yang dikuasainya.

Tidak ada wawasan yang tidak ada masalah. Masalah bisa jadi hadir sebagai suatu gejala, atau sebagai akibat dan bahkan bisa juga diciptakan didalam suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa. Sepanjang sejarah konstalasi kebangsaan, di Indonesia peran mahasiswa dari angkatan ke angkatan , mulai dari era kesatuan tahun 1928, Era Gerakan Nasional tahun 1908, Era orde Baru 1966, Era Kemerdekaan 1945 dan Era Reformasi 1999, yang masing-masing memiliki motivasi dan implikasi yang berlainan. Peran tersebut kemudian mahasiswa dianganugrahi berbagai macam pujian seperti Mahasiswa adalah buah hati orang tua, Mahasiswa Tiang Negara, Mahasiswa pemimimpin yang akan datang, Mahasiswa Penegak Kebenaran dan Keadilan, dan berbagai macam gelar yang disandangnya.

Jika peran tersebut masih tetap ingin dilakukan oleh mahasiswa dalam konteks kekinian seharusnya ada lima komponen penting yang ada dalam masyarakat yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka mereposisi gerakan Mahasiswa dimasa datang yaitu:

  1. Masyarakat berproses dalam peninjauan kembali terhadap nilai dan gaya hidup, sebagai akibat dari proses perubahan yang terjadi kearah kehidupan yang lebih “modern”.
  2. Revolusi harapan yang kompleks dan mencapai puncaknya terhadap kesempatan memperoleh pendidikan dan kesempatan kerja.
  3. Arah arus perkembangan sains berubah yang lebih tertuju kepada tingkah laku masyarakat, yaitu sains yang berorientasi pada nilai dan menyatu dengan sumber daya insani dan alami. Kampus menjadi sentral pengembangan Sains dan Kebudayaan.
  4. Perubahan penampilan dan sikap mahasiswa yang drastis, Kampus kemudian menjadi alat uji identitas dan idealisme mahasiswa.
  5. Gerakan sosial yang halus dari para pemikir kampus melawan status quo-nisme masyarakat dan sains. Kampus menjadi tempat untuk merumuskan arah dan laju perubahan sosial yang konfrehensif dan ditopang oleh kemjuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. (Saefuddin; 1991; 58)
Reorientasi Kampus

Kelima kekuatan tersebut dapat menjadi nikmat atau laknat terhadap kehidupan manusia secara universal. Perlunya reorintasi kampus sebagai akibat dari adanya kesan fungsi kampus secara verbalistik dikumandangkan berfungsi untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Eksistensi Kampus kemudian dipertaruhkan dan hanya dapat dipertahankan jika kampus dapat meleburkan diri pada lima faktor tersebut diatas. Sejarah telah embuktikan bahwa kampus berperan sebagai “penjaga” Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi dimasa lalu, kini dan mungkin yang akan datang. Akan tetapi sesungguhnya peran tersebut sangat sempit akan tetapi seharusnya kampus dapat menemukan  konsep dan paradigma baru  yang utuh  yang tidak bertolak belakang dengan prinsif-normatif.

Kampus Biru

Ciri Kampus biru, karakter mahasiswa sebagai
sekelompok angkatan muda terpelajar yang membawa misi kecendekiawanan atau Rausyan Fikr dan Pola Gerakan Mahasiswa dapat diketahui dari naskah lengkap kami.

Kita sadar bahwa semua manusia memiliki potensi Intelktual dan sosial yang jika dikelola dengan benar akan dapat menimbulkan kekuatan nyata yang akan meluruskan persfektifsejarah dan sistem sosial dengan penanganan yang profesional, institusional dalam dunia “kampus muslim”

Konsep dasar penerapan nilai Islami dilingkungan universitas harus bersumber dari keyakinan akan paradigma dan epistimologi Qur’ani yang telah ter-ejawantah-kan dalam prilaku Rasulullah SAW. Jika telah memiliki muatan spritual  dalam berbagai konsep fikir dalam kehidupan maka akan memunculkan  aksioma-aksioma ilahiah sebagai dasar-dasar gerakan dan sains yang Islami. Dan hal tersebutlah yang melahirkan mahasiswa yang IDEAS (Imajinasi, Data, Evaluasi, Aksi-Sosialisasi). (Saefuddin, 132). Wallahu ‘allam)





Pustaka

Robert H. Lauer,  Persfektif Tentang Perubahan Sosial, Jakarta, Rineka Cipta,  cet. II 1993.
Suwarsono & Alvin Y. SO, Perubahan Sosial dan Pembangunan, Jakarta, Pustaka LP3S Indonesia, Cet. II, 1991
Abdul Azis Taba, Islam dan negara dalam Politik Orde Baru, Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Adi S. Culla, Masyarakat Madani, (Pemikiran, teori dan Relevansinya dengan Cita-Cita Reformasi) Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999.
Nurcholis Madjid, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta, Paramadina, 1997,
Saefuddin AM, Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Jakarta, Mizan, 1997,
Amin Rais, Embrio Cendekiawan Muslim, Jakarta, Perkasa preess, 1995,
Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, Yogyakarta, Sipress, 1996,

0 comments:

Posting Komentar