Prospek dan Manajemen Madrasah

Pendahuluan

Agaknya lembaga pendidikan formal yang paling kurang mendapat apresiasi  dari masyarakat, adalah madrasah. Masyarakat, pada umumnya tidak menunjukkan perhatian yang proporsional terhadap keberadaan madrasah. Sejak awal kemunculannya sampai sekarang madrasah masih terkesan terpinggirkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional telah mendudukkan madrasah sebagai bagian integral dari pendidikan nasional.
 

Ingin tahu lebih dalam,
beli bukunya Yaa..!!! hehehe
Faktor yang menjadi penyebab rendahnya apresiasi terhadap madrasah adalah karena rendahnya mutu manajemen madrasah, kegiatan pembelajaran, keterbatasan sarana dan fasilitas pendukung pembelajaran, serta masih kurangnya daya dukung ketenagaan yang profesional. Secara spesifik terdapat dua masalah pokok yaitu: (1) anggapan adanya kebijakan yang diskriminatif dari pemerintah terhadap pengelolaan madrasah, dan (2) rendahnya kepedulian masyarakat  dalam hal ini stakeholders pendidikan terhadap pengelolaan madrasah. (Masyhuri dkk, 2005).

Permasalahan pokok yang dihadapi madrasah, seperti rendahnya apresiasi masyarakat terhadap madrasah selain karena munculnya kesan diskriminatif pemerintah juga karena keterbatasan madrasah dalam penyediaan sarana dan prasarana pendukung sekolah, ketersediaan sumber daya yang berkualitas. Kondisi tersebut berimbas pada rendahnya kualitas pembelajaran, yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. 


Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan dibidang pendidikan nasional dan menjadi bagian integral dari peningkatan kualitas manusia Indonesia secara kaffah (menyeluruh). Upaya mencerdaskan bangsa menjadi tanggung jawab  pendidikan terutama dalam mempersipakan peserta didik menjadi subyek yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, tangguh, kreatif, mandiri, demokratis dan profesional dibidangnya masing-masing. Kompotensi tersebut harus dimiliki dan dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti menemuh jenjang pendidikan.

Prospek Madrasah

Madrasah dalam pengelolaannya berasal dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat, sebagai cerminan kemandirian madrasah. Kemandirian tersebut sejalan dengan perubahan paradigma pendidikan yang diharapkan menciptakan kemandirian dalam pengelolaannya. Sebagai bagian itegral dari usaha pencapaian tujuan pendidikan nasional, pengelolaan madrasah setidaknya diarahkan pada tiga kepentingan pokok yang harus diakomodasi yaitu; (1) memberikan ruang aspirasi bagi umat Islam secara umum dalam bidang pendidikan, (2) memperkukuh keberadaan madrasah ditengah masyarakat, dan (3) mengarahkan  madrasah agar merespon  perubahan zaman (Masyhuri dkk, 2005). Ketiga kepentingan dimaksudkan untuk mempertegas komitmen madrasah dalam keterlibatannya mempersipakan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pembangunan.

Pengelolaan madrasah menonjolkan ciri khas sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi pada kepentingan keagamaan dan kepentingan kewarganegaraan dengan tetap mengacu kepada UUSPN No. 20 tahun 2003. Madrasah diarahkan untuk menjadi wadah  pembinaan ruh atau praktik hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. Selain itu Masyhuri dkk (2005) menegaskan bahwa madrasah melakukan pembinaan kepada peserta didik menjadi cerdas, berpengetahuan, berkepribadian, serta produktif. Hal tersebut berarti madrasah menjadi wadah untuk membina peserta didik yang memiliki keunggulan dan daya saing yang tinggi untuk menyonsong masa depan yang lebih baik.

Mengingat prospek tersebut di atas, madrasah harus melakukan pembenahan dalam pengelolaanya baik yang berkaitan dengan manajemen madrasah, sumber daya pengeloa pendidikan, pendanaan, evaluasi, proses dan sebagainya. Pembenahan madrasah dapat mencakup beberapa ruang lingkup diantaranya adalah pada aspek manajemen sekolah termasuk pembinaan dan pengembangan sumber daya guru dan ketenagaan, kegiatan pembelajaran, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sekolah, membangun tiem work dan menciptakan kepemimpinan yang yang demokratis dan profesional.

Manajemen Berbasis Madrasah

Madrasah dalam konteks pembangunan bidang pendidikan, menduduki posisi second choise jika dibandingkan dengan sekolah lain. Kecenderungan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola lembaga pendidikan madrasah. Disadari betul bahwa posisi tersebut disebabkan karena ada kesan madrasah tidak memiliki kemmapuan untuk mengembangkan pendidikan, sehingga kualitas out put yang dihasilkan berada dibawah sekolah umum.

Di lingkungan madrasah sudah perlu dilakukan pembinaan  yang berkesinambungan  sehingga dapat meningkatkan mutu  yang berkelanjutan (continuous quality inprovement) karena pembenahan yang dilakukan selama ini terkesan parsial dan tidak berkesinambungan (Mulyasa, 2003). Madrasah sudah harus mampu mengimplementasikan school based manajemen melalui Manajemen Berbasis Madrasah agar dapat menjadi lembaga pendidikan yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab secara luas dan mandiri.
Manajemen berbasis sekolah (School Based Manajemen) dimana pengelolaan sekolah memiliki ciri diataranya adalah (1) pemberian otonomi luas kepada sekolah, (2) Tingginya partisipasi masyarakat dan orang tua, (3) kepemimpinan yang demokratis dan profesional, dan (4) Team work yang kompak dan transparant (Mulyasa, 2002). Pandangan senada dikemukakan oleh Abu Dahoe (2002) bahwa ciri pokok SBM adalah pemberian otonomi yang luas kepada sekolah dan pelibatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sekolah.

Implementasi MBM di lingkup madrasah dalam pengelolaannya menyangkut beberapa aspek yaitu; (1) iklim madrasah yang kondusif, (2) otonomi madrasah, (3) penyiapan tenaga pendidik dan kependidikan yang profesional, (4) menciptrakan kepemimpinan madrasah yang demokratis, dan (5) revitalisasi partisipasi masyarakat dan orang tua. (Mulyasa, 2003). Dengan melakukan pembenahan pada aspek tersebut secara utuh, madrasah diharapkan dapat meningkatkan mutu pengelolaan madrasah. Pningkatan mutu pengelolaan akan berimbas pada peningkatan mutu pengelolaan, ketersediaan sumber daya yang berkualitas, meningkatnya prestasi belajar siswa, yang pada akhirnya bermuara pada tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepada madrasah.

Program Pengembangan Madrasah

Madrasah dapat menetapkan beberapa strategi program pengembangan madrasah yaitu: (1) program peningkatan mutu manajemen, (2) program peningkatan kegiatan pembelajaran, dan (3) program peningkatan mutu sarana dan fasilitas pendukung pembelajaran.

  1. Program peningkatan Mutu Manajemen Madrasah, Program tersebut tersebut dilaksanakan dengan menganut prinsip otonomi dan partisipatif. Prinsip otonomi dengan kewenangan yang lebih luas bagi madrasah dan menciptakan iklim partisipatif dengan melibatkan komponen warga sekolah dan warga masyarakat dalam pengambilan keputusan sekolah, penyusunan renstra, RAPBM dan rekruitmen tenaga honorer.
  2. Program Peningkatan Kegiatan Pembelajaran, Program tersebut tersebut dilaksanakan dengan melakukan pembinaan dalam bentuk pelatihan, pertemuan antara guru mata pelajaran (KKG), KKM, supervisi bagi guru, agar guru dapat meningkatkan kompotensi dan wawasan secara utuh yang berkaitan dengan kemampuan menguasai kurikulum, menyusun perencanaan pengajaran, memilih metode memilih dan menggunakan media pembelajaran, penguasaan materi dan evaluasi pembelajaran.
  3. Program peningkatan mutu sarana dan fasilitas pendukung pembelajaran, Program tersebut tersebut dilaksanakan dengan mengidentifikasi kebutuhan sarana dan fasilitas fisik. Kegiatan yang dilakukan adalah melakukan rehabilitasi ringan ruang kelas, perbaikan lingkungan sekolah, pengadaan buku pelajaran, serta pengadaan media atau alat peraga.
Penutup

Langkah strategis yang ditempuh pihak Madrasah dalam meningkatkan mutu dan kualitas output madrasah terdiri dari pelaskanan (1) program peningkatan mutu manajemen yang berciri otonomi dan partisipatif, (2) program peningkatan kegiatan pembelajaran dengan meningkatkan kulaitas dan kompotensi serta wawasan guru melalui supervisi, pelatihan, dan KKG, dan (3) program peningkatan mutu sarana dan fasilitas pendukung pembelajaran dengan melibatkan stakes holders pendidikan diantaranya adalah pemerintah dan masyarakat. 










0 comments:

Posting Komentar