Teori Perkembangan Moral Anak

Teori Erikson disebut dengan Teori psikososial yaitu menggabungkan antara prinsip pribadi, psikologi dan perkembangan kebudayan dan sosial yang didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan diri seseorang merupkan respon pada kebutuhannya.
Lima hal penting yang terkait dengan teori psikososial Ericson yaitu:

a. Manusia secara umum mempunyai persamaan (kebutuhan) mendasar.
b. Perkembangan ego atau pikiran sendiri dalam merespon beberapa keinginan.
c. Proses perkembangan terdiri atas beberapa tahap.
d. Karakter tiap tahap mengalami tantangan psikososial untuk berkembang.
e. Setiap tahap menggambarkan perbedaan motivasi setiap individu.

Tahap-tahap perkembangan psikososial menurut Erikson adalah:

  1. Percaya lawan tidak percaya ( bayi 0-1 tahun ) kepercayaan pada dunia melalui kasih sayang yang terus menerus.
  2. Mandiri lawan ragu dan malu ( anak yang baru berjalan ) ketidaktergantungan ditentukan oleh pengalaman yang berhasil dibentuk melalui dukungan.
  3. Inisiatif lawan rasa bersalah (masa anak-anak 3 – 6 tahun) Sifat menyelidiki dan eksplorasi yang dihasilkan melalui penanganan dan penerimaan tantangan.
  4. Industri lawan Rendah diri (Masa anak-anak menengah 6 – 12 tahun) kemampuan dan kesenangan timbul melalui keberhasilan dan kemampuan prestasi.
  5. Mengenal lawan bingung (Masa Remaja (12-13 tahun) Identitas pribadi, sosial dan emosional
  6. Keintiman lawan Isolasi (Masa muda dewasa) terbuka pada orang lain dan mengembangkan hubungan erat melalui interaksi dengan orang lain.
  7. Perkembangan lawan tetap (Masa dewasa menengah) kreatifitas dan keberhasilan dicapai dari keberhasilan pekerjaan dan penumbuhan rasa tanggung jawab
  8. Kesempurnaan lawan keputusan (Usia Tua) penerimaan terhadap hidup dicapai melalui pengertian terhadap keberadaan dalam lingkaran kehidupan.
TEORI PIAGET
Piaget berpendapat bahwa respon anak-anak terhadap problem moral dibagi atas dua tahapan besar perkembangan yang didasarkan pada prinsip internalisasi yang mengacu pada sumber pengendalian, pemikiran dan tindakan anak-anak. Perkembangan moral menurut Piaget terdiri dari dua bahagian yaitu: (1) tahap moralitas eksternal, di mana peraturan dipandang sebagai sesuatu yang bersikap baku yang dimiliki oleh pihak otoritas, dan (2) moralitas otonomi di mana telah berkembang gagasan rasional tentang kejujuran dan melihat keadilan sebagai proses timbal balik dalam memperlakukan orang lain seperti orang lain memperlakukan dirinya
Respon anak terhadap perkembangan moral tersebut didasarkan pada prinsip internalisasi yang mengacu pada pengendalian, pemikiran dan tindakan anak-anak.

Tahapan Perkembangan Moral Piaget
  1. Tahap Realisme Moral; praoperasional (4-7 tahun); memusatkan perhatian pada akibat perbuatan, aturan-aturan tidak berubah, dan hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis.
  2. Tahap Transisi operasional atau kongkret operasional (7-10tahun); perubahan secara bertahap kepemilikan moral tahap kedua
  3. Tahap Otonomi moral, realisme dan resiprositas atau formal operasional (11 tahun ke atas); mempertimbangkan tujuan-tujuan prilaku moral dan menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah.
TEORI KOHLBERG
Masalah Moral mencakup situasi yang menganjurkan seseorang untuk membuat suatu keputusan moral. Cara manusia menanggapi masalah moral tergantung pada tingkat perkembangan moral mereka.
Tahapan perkembangan moral menurut Kohlberg terdiri dari 3 tingkatan yaitu:

Tahap etika prakonvensional, (Usia 4-10 tahun) terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan, Pada tahap ini konsep moral anak menentukan kebutuhan prilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut dan prilaku baik dihubungkan dengan penghindaran dari hukuman.
  2. Tahap orientasi pemuasan kebutuhan, di mana konsep moral anak berprilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan tanpa mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Tahap etika Konvensional (usia 10-13 tahun) dan terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi kekompakan, pada tahap ini anak dan remaja berprilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral yang ada agar mendapat persetujuan orang dewasa, bukan karena upaya menghindari suatu hukuman. Selain itu perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya. Jadi ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan.
  2. Tahap orientasi hukum dan peraturan, anak dan remaja memiliki sikap pasti terhadap wewenang dan aturan serta hukum harus ditaati oleh semua orang.
Tahap etika pascakonvensional. (usia 13 tahun ke atas) terdiri dari dua tahap yaitu:
  1. Tahap orientasi legal dan hak perseorangan, Remaja dan dewasa mengartikan prilaku baik dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial, perubahan hukumdan aturan dapat diterima jika diperlukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik, serta pada tahapan ini pelanggaran terhadap hukum dan aturan dapat terjadi karena adanya alasan-alasan tertentu.
  2. Tahap prinsip etika universal, di mana keputusan mengenai prilaku-prilaku sosial didasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan orang lain. Selain itu pada tahapan ini keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat, meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hukum yang dibuat untuk mengekalkan aturan sosial.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Kohlberg ditemukan beberapa rumusan bahwa:
1. Pertimbangan moral seseorang berkembang melalui tahapan yang sama.
2. Setiap individu melalui tahapan-tahapan tersebut dengan cara yang berbeda
3. Perkembangan itu berangsur-angsur dan terus menerus
4. Latihan akan dapat berhasil jika berada pada tahap yang lebih tinggi.

0 comments:

Posting Komentar