Tradisi dan Kebudayaan Masyarakat

Kebudayaan dalam bahasa Inggris yang diserap dari bahasa Latin “Colere”, disebut “Culture” yang berarti segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya tentu dengan mengandalkan kemampuan manusia sendiri untuk menjadikan alam sebagai obyek yang dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi dapat dikatakan bahwa kebudayaan tersebut lahir sesungguhnya diakibatkan oleh keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam bentuk tingkah laku, pola hidup, perekonomian, pertanian, sistem kekerabatan, stratifikasi sosial, religi, mitos dan sebagainya. Kesemua aspek tersebut yang kemudian harus dipenuhi oleh manusia dalam kehidupannya yang sekaligus secara spontanitas akan melahirkan kebudayaan.

Proses pemenuhan kebutuhan tersebut yang bersumber dari alam oleh manusia kemudian dengan kemampuan berfikirnya melakukan inovasi untuk mempermudah dalam mengelola alam yang dimanfaatkan untuk kepentingan hidupnya.
Dari pemahaman tersebut maka akan semakin rumit untuk merumuskan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kebudayaan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa pakar yang berbeda dalam mendefenisikan kebudyaan itu sendiri. Akan tetapi pada makalah ini kami mengambil beberapa dari defenisi kebudayaan yang dianggap relevan dengan pokok pembahasan. Jika kebudayaan lahir dari upaya manusia untuk mengelola sumber daya alam maka C.A. van Peursen mengemukakan pendapat bahwa sesungguhnya pengelolaan tersebut dapat diterangkan dengan mengamati dua pergeseran yang terjadi dalam pendapat-pendapat tentang hakekat kebudayaan. (C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan,  Kanisisus, Yogyakarta, 1988; 10)

Dahulu orang berpendapat  bahwa kebudayaan meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani seperti misalnya agama, kesenian, filsafat, Ilmu Pengetahuan tata negara dan sebagainya. Kemudian pendapat  tersebut disingkirkan dan diganti dengan pandangan baru bahwa kebudayaan  merupakan manifestasi kehidupan setiap orang, setiap kelompok orang-orang yang berlainan dengan hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam melainkan selalu mengubah alam itu.

Pendapat C.A van Peursen ini kemudian mengantar kita untuk memahami bahwa kebudayaan tidak dapat menimbulkan pemahaman bahwa kelompok masyarakat atau bangsa tertentu memiliki kebudayaan yang lebih tinggi (berbudaya)  dan bangsa lain memiliki kebudayaan yang lebih rendah (primitif). Pandangan ini tentu telah berbeda dengan beberapa pandangan sebelumnya yang menganggap bahwa masyarakat tertentu dapat memiliki kebudayaan yang lebih tinggi (high culture) dan kebudayaan yang rendah atau primitif. Bahwa kebudayaan sesungguhnya adalah terkait dengan seluruh manifestasi dari upaya manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani maupun yang  berkaitan dengan kebutuhan rohaninya.

Dari aspek luas cakupan kebudayaan, E.B. Taylor mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari pandangan tersebut maka kebudayaan tidak lagi sekedar menjadi kata benda tetapi kebudayaan menjadi lebih dinamis, senantiasa bergerak sesuai dengan perubahan masyarakat. Dari sifat dinamis masyarakt tersebut sehingga tradisi suatu masyarakat pun senantiasa mengalami perubahan yang nota bene adalah merupakan bagian dari kebudayaan.

Dari pemaham tersebut maka apapun yang dilakukan oleh manusia secara turun temurun dari setiap aspek kehidupannya yang merupakan upaya untuk meringkankan hidup manusia dapat dikatakan sebagai “tradisi” yang berarti bahwa hal tersebut adalah menjadi bagian dari kebudayaan. Secara khusus tradisi oleh C.A. van Peursen diterjemahkan  sebagai proses pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, harta-harta. Tradisi dapat dirubah diangkat, ditolak dan dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia. (C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan; 11)

Lebih khusus tradisi yang dapat melahirkan kebudayaan masyarakat dapat diketahui dari wujud tradisi itu sendiri. Menurut Koentjaraningrat (1974), kebudayaan itu mempunyai paling sedikit tiga wujud, yaitu:

  • Wujud Kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya.
  • Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
  • Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. (Mattulada; Kebudayaan Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup; Hasanuddin University Press, 1997; 1)
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai dan norma-norma telah ada sejak manusia itu ada. Dalam sistem kemasyarakat banyak hal yang telah disepakati dan menjadi nilai atau norma-norma yang menjadi tradisi masyarakat tertentu. Misalnya dalam hal penghormatan anak kepada orang tuanya. Seorang anak dalam konteks budaya Bugis dilarang menyebutkan nama Asli Orang tua. Anak hanya diperbolehkan memanggil dengan gelar yang disandangnya jika dia dari kalangan bangsawan dan menyebut Kedudukan jika dia memiliki kedudukan termasuk kepala rumah tangga. Sehingga kemudian penyebutan inipun tidak hanya berlaku pada anak dengan orangtuanya akan tetapi antara yang lebih muda kepada yang lebih tua. Misalnya anak kepada orang tua laki-laki disebut “Embo” atau “Puang” atau “Etta”. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka seorang anak dianggap tidak memiliki tatakrama dan sopan santun.

Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktifitas manusia dalam masyarakat tentu sangat terkait dengan hal yang berwujud materil. Misalnya dalam pembangunan rumah, baik dari bentuk posisi dan sebagainya. Selain itu dari sistem pengelolaan pertanian, dihuma dan ladang. Kesemuanya itu menjadi bentuk dari kebudayaan masyarakat. Misalnya dalam menggarap tanah pertanian yang menggunakan tenaga manusia, kemudian berubah dengan menggunakan tenaga binatang, seperti kerbau dan sapi. Selanjutnya mengalami perubahan sebagai akibat dari perkembangan dalam bidang Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi maka pola dan sistem pertanianpun berubah dengan sistem mekanisasi. Dalam konteks ini maka sesungguhnya telah terjadi suatu perubahan yang luar biasa dari pola pertanian tradisional ke pola pertanian modern.

Wujud ketiga dari kebudayaan adalah berupa benda-benda sebagai hasil dari peradaban manusia pada zamannya. Misalnya gedung, rumah, kantor, sistim pengairan, alat-alat pertanian dan sebagainya. Bertuk tersebut berubah sesuai dengan perubahan nilai, dan sistim yang dianut pada masyarakat tersebut. Perubahan tersebutlan yang kemudian mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan

0 comments:

Posting Komentar