Ukuran Kebenaran Pengetahuan

Tulisan ini sebenarnya diilhami dari satu pertanyaan ketika saya sedang mengajar. Seorang peserta saya bertanya bagaimana tentang Pengembangan ilmu pengetahuan. Disebutkan bahwa kriteria kebenaran pengetahuan itu adalah Wahyu. Lalu bagaimanakah dengan kedudukan pengetahuan yang dikembangkan tidak didasarkan pada ukuran kebenaran Wahyu (Al-Qur'an dan Hadits). Bukankanh pengetahuan yang berkembang sekarang tidak menjadikan Wahyu sebagai ukuran kebenaran, karena dikembangkan oleh orang-orang yang tidak meyakini kebenaran al-Qur'an dan hadits.

Sebagai agama sempurna, Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. ini tidak terbahtahkan lagi oleh siapapun terlebih-lebih oleh kalangan Umat Islam. Islam sebagai agama yang universal memang telah mendudukkan Ilmu pengetahuan sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan Manusia. Jika kita bandingkan dengan beberapa paradigma Hubungan Agama dan ilmu pengetahuan secara garis besar kita dapat melihat tiga pola umum yaitu:

  1. Paradigma sekuler yang memandang Agama dan Pengetahuan adalah dua hal yang memiliki segmen kajian yang berbeda sehingga keduanya dipandang dikotomis.
  2. Paradigma sosialis memandang Agama adalah sesuatu hal yang tidak perlu sehingga pengetahuan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
  3. Paradigma islam memandang bahwa Agama dan Ilmu Pengetahuan adalah merupaka dua entitas yang mutlak dan menjadi satu kesatuan yang utuh.
Dari ketiga paradigma tersebut, sesungguhnya Paradigma sosial sedikit lebih ekstrim dibandingkan dengan dua paradigma lainnya. Islam memang sangat mengedepankan Ilmu sebagai dasar mutlak untuk memahami ajaran-ajarannya. Beberapa informasi yang disediakan al-Qur'an berkaitan dengan hal tersebut sangatlah banyak. Bahkan Surah Pertama yang Diturunkan oleh Allah swt adalah memberikan penegasan tentang perlunya pengetahuan dalam kehidupan manusia melalui kata "Iqra'".

Disamping itu dalam islam al-Qur'an ditempatkan menjadi Sumber Pengetahuan, yang berarti bahwa pegnembangan ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah merupakan kajian yang mendalam terhadap seluruh rangkaian wahyu yang tertulis dalam Mushaf al-Qur'an. Pada masa awal mula perkebangan ilmu pengetauan di dunia Islam ilmu dikembangkan berdasarkan hasil pengamatan, wahyu, atau renungan para sufi- sebagai induk ilmu pengetahuan (Baqir, 2002, http://ahmadsamantho.wordpress.com). Menjadi jelas bahwa Ilmu dalam Islam sesungguhnya berakar dari al-Qur'an sehingga mudah dipahami bahwa ukuran kebenaran pengetahuan itu didasarkan pada Wahyu. Sepanjang pengetahuan itu tidak bertentangan dengan wahyu maka pengetahuan itu dianggap benar.

Mengapa perlu ada kriteria kebenaran dalam Pengetahuan. Tentu masalah ini diperlukan karena manusia pada hakekatnya dalam upaya mengembangkan pengetahuan dilakukan melalui pengalaman dan hasil dari proses berpikir yang dilakukan untuk menemukan kebenaran. Sehingga mengakibatkan apa yang disebut benar oleh seseorang dari hasil penalarannya belum tentu benar bagi orang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran.


Dalam filsafat Ilmu, ditetapkan tiga jenis kebenaran yaitu:
  1. kebenaran epistemologi(berkaitan dengan pengetahuan), 
  2. kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada atau diadakan), dan 
  3. kebenaran semantis(berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)
Berdasarkan ketiga jenis kebenaran tersebut melahirkan 4 teori kebenaran yaitu
  1. Teori Korespondensi, kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan/pendapat tersebut.
  2. Teori Koherensi, Menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar
  3. Teori Pragmatisme, menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia
  4. Teori Kebenaran Illahiah atau agama, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
Dari ke empat teori kebenaran tersebut dapat mengarahkan kita pada satu kesimpulan bahwa pengetahuan yang benar itu sesungguhnya harus memenuhi keempa tteori tersebut di atas. Nah... ! Teori kebenaran ilahiah yang dijadikan ukuran kebenaran pengetahan dalam dunis Islam sesungguhnya tidak bertentangan dengan Teori kebenaran Korespondensi, Koherensi dan Pragmatisme. Dalam Islam tidak ada satu wahyupun yang bertentangan dengan realitaas yang ada, tidak juga ditemukan dalam Wahyu (al-qur'an) antara satu dengan lainnya dan juga dalam wahyu telah banyak diinformasikan pengetahuan yang didasarkan pada kemanfaatan bagi kehidupan manusia.

Jika dikembalikan pada pertanyaan awal tentang bagaimanakah kedudukan pengetahuan yang dikembangkan tidak didasarkan pada ukuran kebenaran Wahyu (Al-Qur'an dan Hadits) maka dapat secara sederhana dirumuskan bahwa pengetahuan apapun yang dikembangkan dengan mengacu kepada kriteria atau teori kebenaran selain teori kebenaran wahyu "Sepanjang tidak bertentangan dengan Wahyu" maka pengetahuan itu benar adanya. (Wallahu 'a'lam bii showwab)

0 comments:

Posting Komentar