Kebebasan BerEkspresi dalam konteks Etika

Peristiwa yang menjadiperhatian umat  Islam sekarang kelihatannya mengarah kepada "pembuatan kembali" Karikatur Nabi Muhammad. Peristiwa ini sesungguhnya sangat terkait dengan Kebebasan berekspresi, kebebasanmengeluarkan pendapat, dan kebebasan Pers. Persoalannya kemudian adalah bahwa dalm konteks kebebasan pers mestikan kemudian menafikan hal-hal yang justru meninggalkan pertentangan antara individu dan kelompok yang justru akan membawa kepada perpecahan dan konflik. Kelihatannya, dunia pers kembali teruji.

Dalam konteks ke Indonesiaan, tentu kebebasan berekspresi telah memiliki acuan hukum yang jelas dimana dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 disebutkan antara lain dalam pasal 28F bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.Dari pasal ini memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada setiap warga negara untuk memiliki, mengolah dan menyimpan serta menyebarkan informasi apapun.

akan tetapi menjadi naif jika UU kebebasan tersebut tidak dibungkus dengan Etika. Dalam Etika Pers misalnya tegas-tegas disebutkan bahwa dalam jurnalisme terdapat beberapa etika yang harus dipatuhi yaitu akurasi, keadilan, kerahasiaan, privasi. Nah dalam konteks berita tentang dari Media Prancis tentang publikasi Karikatur Nabi Muhammad sesungguhnya telah melanggar Etika Privasi Umat Islam.


Dalam beberapa tahun terakhir ini, memang kebebasan ini telah mendapat respon yang negatif dan berlebihan. Saat ini informasi yang disajikan oleh media telah berubah menjadi komoditi dan mimetisme. Berkat media,budaya baru telah terbentuk dan masyarakat telah berubah karenanya. Mengatasi keseimbangan antara tugas membimbing masyarakat lewat program-program yang disuguhkan kepada masyarakat dan pemenuhan tugas sebagai alat produksi ekonomi. Media pun membangun image sebagai kebutuhan masyarakat dan juga pencapai kebutuhan ekonomi baginya. Yang menjadi masalah yaitu sikap dari masyarakat yang tidak menunjukkan adanya perlawanan atas bentuk program yang ditawarkan oleh media sehingga media perlu membawa etika dan menerapkan dampak di dalam masyarakat yang harus dilindungi dan mengurangi adanya penyalahgunaan dari dampak negatif media itu sendiri.(http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_dan_etika_media_komunikasi)

Padahal dalam konsep dasar etika disebutkan bahwa sesungguhnya Etika adalah pedoman atau aturan moral untuk situasi-situasi dimana media memiliki efek negatif dan hukum tidak bisa menjaga tingkah laku. Etika adalah peraturan moral yang menuntun tingkah laku seseorang. Etika tentu sangat terkait dengan aturan moral yang didalamnya memuat tentang tidak diperkenankannya seseorang atau kelompok dalam menunaikan hak dan memperoleh kewajibannya lalu menginjank-injak dan melanggar hak-hak kelompok atau pribadi tertentu.Yah tentu termasuk di dalamnya adalah penodaan Agama.




0 comments:

Posting Komentar