Pembauran ditengah Pluralitas etnis di Indonesia

Dari hal tersebut diatas tidak terbantahkan lagi bahwa proses pembauran terjadi secara berangsur-angsur dan kontinyu. namun demikian satu hak tidak sdapat dipungkiri bahwa latar belakang histori  dalam hal ini politik penjajah sendiri telah mempersipakan sikap-sikap anti etnik Cina di indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi masayarakat pribumi jika akan melakukan pembauran dengan etnik tersebut, demikian pula sebalknya bagi etnik cina mengalami kendala tersedirti dalam proses pembaurannya dengan penduduk pribumi.

Pada tahun 1911 di Solo didirikan Syarikat Islam sebagai wadah atau perkumpulan para pedagang pribumi  memeiliki sasaran tertentu yan antara lain adalah untuk menggantikan posisi perantara hubungan perdagangan antara penduduk pribumi dengan bangsa Eropa yang selama berabad-abad dipegang oleh etnik Cina. Syarikat Islam bergerak dalam seluruh lapisan masyarakat  yang secara khusus bertujuan untuk  memeberantas semua penghinaan  yag ditujukan  terhadap rakyat pribumi , memberikan perlawanan  terhadap penindasan yang diklakukan oleh kelompok pedagan Eropa dan etnik Cina  yang bersdiri diatas kesombongan Rasial, membasmi kecurangan-kecurangan  dan penidasan-penindasan dari pihak anubtenar bumi putera dan eropa. Selain itu Gerakan Syariat Islam juga memberi reaaksi terhadap  rencanan Keristeing politik dari pihak kaum Zendiq (Sartono, Marwati, Nugroho, 1975: 187-188).

Mejadi wajar jika Syarikat Islam mendapat dukungan yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat yang terendah, karena merekalah yang menjadi  alas kaki dari golongan-golongan yang hendak  di berantas. Di Jawa Barat pernah terjadi benturan fisik antara masyarakat pribumi dan masyarakat  Cina. Peritiwa tersebut bermula di ITB.  Terjadinya benturan fisik tersebut dilakukan dalam bentuk penghancuran dan pembakaran fasilitas-fasiitas yang dimiliki oleh Etnik Cina berupa pengrusakan tokoh-toko dan Rumah tinggal orang cina. Gerakan rasial anti Cina tersebut  mendapat jawaban dan balasan di beberapa daerah di Indonesia seperti peristiwa di Tegal, Sumedang,  Bogor, Tasik Malaya, Garut, Sukabumi, Surabaya, Cianjur dan Jogyakarta.

Kerusuhan yang terjadi yang berlatar belakang anti ras tertentu dari golongan pribumi sesungguhnya lebih banyak disebabakan oleh karena adanya batasan psikologis dalam bersosialisasi dan bermasyarakat, sebagai akibat dari strata sosial dan ekonomi yang jauh berbeda. Kelompok Etnik Cina cenderung diterima sebagai kelompok yang sombong, angkuh, memamerkan harta kekayaan terhadap orang pribumi yang kemudian memicu munculnya kopnflik sosial dan berwujud konflik rasial dan konflik fisik. Jadi secara umu  diketahui bahwa munculnya pertikaian dan komplik antara ras tersebut dikarenakan pergedaan terhadap penguasaan sendi perekonomian. Terdapat kecenderungan etnik cina lebih Kaya dan mamapu dibidang Ekonomi dibandingkan dengan penduduk Pribumi.

0 comments:

Posting Komentar