Pluralitas RAS di Nusantara

Jika dibicarakan tentang RAS dan diskriminasi di indonesia menjadi hal yang menarik. betapa tidak di indonesia adalah merupakan salah satu negara yang pernah menjadi negara jajahan bangsa asia dan Eropa lainya. Sehingga mau tidak mau ada pengeruh dalam hal pembentukan kasta atau strata sosial di masyarakat. Secara lebih khusus di Indonesia bahwa sejak pembentukan negara Republik Indonesia masalah kependudukan, warga negara sudah menjadi perhatian utama seperti yag tertuang dalam pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Sangat ironis jika jika di negara yang dengan tegas mengatakan bahwa  setiap orang mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama  masih sering meledak peristiwa-peristiwa rasial khususnya terhadap golongan minoritas. (misalnya etnis CINA).

Keberadaan etnis Cina di Indonesia adalah karena proses migrasi yang dilatar belakangi oleh hubungan perdagangan antara Cina dan Nusantara yang diawali pada abad ke 8. hubungan perdagangan tersebut kemudian secara perlahan meninggalkan etnis Cina di beberapa pelabuhan-pelabuhan yang lemudian berkembang dengan sangat pesat. Jumlah etnis Cina yang melakukan perdagangan di kawasan Nusantara semakin berkembang dan bertambah jumlahnya. Pertambahan jumlah tersebut selain karena kandungan kekayaan Nusantara yang melimpah sehingga menarik mereka untuk melakukan perdagangan juga lambat laun terjadi perkawinan antara etnis cina dengan penduduk pribumi. Perkawinan yang terjadi antara laki-laki etnis cina dengan waita pribumi kebanyakan hanya dijadikan selir atau istri kedua. Akan tetapi keturunan mereka didik dengan pola kebudayaan wtnis cina.

Orang cina yang tinggal di Nusantara terkenal dengan keuletan dan kerajinan  dan ketekunan mereka  dalam melakukan usaha perdagangan. Mengandalka diri sendir, mempunyai semangat  berusaha yang tinggi serta trampil dan memiliki sifat gotong royong yang tinggi antara sesama golongan etnis mereka. Kualifikasi dan ciri khas yang mereka miliki menjadi modal kuat dan penunjang keberhasilan mereka dalam melakujkan perdagangan dan kegiatan ekonomi lainnya di bumi Nusantara yang kaya akan sumber daya alam.

Sejak abad ke 17- 20, posisi dan kedudukan orang cinia semakin berakar di nusantara, terlebih ketika Belanda juga bermaksud mengadakan hubungan perdagangan dengan Penduduk pribumi. Etnis Cina menjadi perantara hubungan perdagangan antara penduduk pribumi dengan para pedangang dari Negara Belanda yang memiliki areal perdagangan yang jauh lebih luas. Dengan demikian lambat laun etnis Cina jauh lebih menguasai kegiatan ekonomi dan perdaganan di nusantara ddibandingkan dengan penduduk pribumi sendiri. Status sosak etnis Cina pun kemudian menempati posisi yang hampir sederajat dengan kaum bangsawan di belahan Nusantara.

Salah satu daerah yang kaya yang dikuasai oleh etnis Cina adalah Daerah Purbalingga  yang dibeli oleh Hat King Ko seorang kepala perkampungan Cina di Pasuruan  berpangkat Kapten seharga 1. juta ringgit (1 ringgit = 2.50 gulden) Pembayarannya di angsur sebanyak 20 kali dalam jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian setiap setengah tahun  ia haus mengangsur 50 ringgit. Hat Kin Ko setelah membeli daerah Purbalingga diangkat menjadi Mayor dan melakukan penindasan dan pemerasan terhadap penduduk pribumi  yang menimbulkan pembrontakan  pada tahun 1813 yang mengakibatkan terbunuhnya Hat King Ko. (Soecjipto, 1981: hal. 4)

Keturunan Orang cina hasil perkawinan dengan Pribbumi (peranakan Cina)  kemudian mengubah namanya dengan nama Jawa lengkap dengan gelar-gelarnya. Pada Tahun 1764 sebenarnya daerah Besuki pernah  diperintah oleh  Muslim (Mohammedannsche Chineesch) yang dalam sumber-sumber Belanda sering disebut  “Beschoren Chinesch” atau “Cina cukuran, atau cina yang dipotong”, bernama Han Cin Sing yang mengambil nama Jawa Ngabehi Surapernala. Sekitar tahun 1767 daerah Besuki dan Pamanukan oleh Kompeni disewakan lagi kepada orang cina lain.

Dari hal tersebut di atas dapat diketahui  mengapa terkadang orang pribumi  mengambil sikap ekstrim  terhadap kelompok etnis Cina. Melalaui perdagangan jauh sebelum orang Eropa datang  etnis Cina sudah datang ke Indonesia dan bahkan menguasai sendi-sendi perekonomian bangsa.

0 comments:

Posting Komentar