SARA (Suku, Agama dan Ras) Dalam Pluralitas Etnik dan Pembauran) 1

Hakikat manusia adalah identik

yang membedakan mereka adalah

adat istiadat

(Konfuctus, 551-478 SM)





A.   Latar Belakang

Beberapa tahun belakangan ini masyarakat sering digelisahkan oleh berbagai tindakan kekerasan berupa perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, benturan rasial antar golongan tertentu. Latar belakangnyapun bervariasi  misalnya kemelaratan,  atau tuntutan ekonomi dan bahkan berlatar belakang kebudayaan seperti “siri” di Makassar. Dalam kesempatan semacam itu, emosi mengusai rasio, tidak diteliti dengan seksama duduk berdirinya persoalan, pokoknya ramai-ramai gayang, hancurkan. Yang berwajib turun tangan, pentolan kerusuhan di tangkap, Pengumuman menyusul, permainanpun selesai. Lahirlah istilah SARA.

Sara adalah merupakan akronim dari  SUKU, AGAMA, RAS antar Golongan. Sara bukanlah sesuatu yang baru, namun tetap aktual dan membutuhkan banyak pemikiran serta dana untuk  mengatasinya. Jika sejarah ditelusuri akan terungkap banyak peristiwa dengan latar belakang SARA, apakah dalam ruang lingkup yang terbatas ataupun luas, karena menyangkut kelompok-kelompok kecil atau besar dan tersebar. Dikatakan aktual karena tak dapat disangkal bahwa dalam negara yang terdiri antara dua samapi tiga kelompok etnik dengan  sekian banyak latar belakang budaya, sosial, ekonomi dan kepentingan yang beraneka ragam warna, sering pula timbul ketegangan dan benturan fisik.

Dari setiap konflik yang timbul dalam konstalasi kenegaran kita di Indonesia,issu sara terkadang sangat mendominasi sebagai kambing hitam yang mentebabkan terjadi konflik berkepanjangan tersebut. Jika sepintas dilihat bahwa sara atau perbedaan Suku Agama dan Ras memangklah sangat rentan untuk dapat menyebabkan timbulnya pertentangan tersebut. Kelompok-kelompok dalam masyarakat kita terbentuk sifak inklusifisme karena perbedaaan suku. Di indonesia misalnya Pluralitas suku-suku penduduk pribumi sangat beragam. Dan keberagaman tersebut terkadang menjadi pemicu terjadinya konflik yang berkepanjangan. Demikin pula dengan perbedaan Agama. Ketidak pahaman pemeluk agama tertentu terhadap ajaran Agama, kedangkalan pemahaman mereka dalam mengamalakan ajaran agama yang juga dapat menjadi pemicu terjadinya pertentangan dan konflik agama.

Dan bahkan yang diklaim benyak mengakibatkan terjadinya konflik didalam kehidupan sosial masyarakat adalah latar belakang RAS. Konflik rasisme tidak hany terjadi di Indonesia akan tetapi hampir diseluruh belahan dunia. Di Amerika misalnya Rasisme masih sangat kental yang sering menimbulkan petentangan dan konflik antara Kulit Putih dan kulit Hitam. Antara kelompok Yahudi dan bahkan di Indonesia adalah Rasisme antara etnik Cina dengan Etnik Pribumi. pertemntangan tersebut sesungguhnya tidak menguntungkan kedua belah pihak akan tetapi justru dapat mennimbukan kerugian dimana-mana.

Sebuah agenda besar dalam sebuah negara Demokrasi untuk mewujudkan toleransi dan rasa kebersamaan ditengah pluralitas etnik dan budaya. Dalam negara Demokrasi semua kelompok dan etnik bersamaan kedudukan hak dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Persolan tersebut sesungguhnya menjadi hal yang sangat penting untuk dicegah apatah agi di Negara Republik indonesia yang memiliki semboyan Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Upaya penyeatuan tersebut harus mendapat perhatian penuh jika ingin mewujudkan demokratisasi diseluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

1 dari 3 tulisan

0 comments:

Posting Komentar