Hujan, TV dan Banjir Lokal di dapur

Hujan sore ini sedikit menghawatirkan. Disamping karena rumah tinggalku berada di daerah rawan banjir lokal (rumahku banjir tapi rumah orang tidak) juga karena suara TV yang kukeraskan juga menyampaikan berita menghawatirkan. Situasi ini memang cukup menyibukkanku, karena harus mengawasi air yang mulai menggenangi sebagian besar lantai dapur dengan tinggi kurang lebih 3cm, juga sangat ingin menonton TV dan sibuk ngamatin persiapan acara Studblog Discussion Event 2014 dan internet Sehat. Al hasil sambil berdiri di pintu pembatas ruang dapur mengawasi air, sementara telinga kupasang sedikit lebih konsen mendengar suara tv, meski juga terganggu oleh suara titik air hujan yang seperti memukul mukul atap rumah.
Waaah... Belum lagi hujan reda, dan itu berarti tinggi air dilantai dapur juga semakin tinggi pun juga berarti suara tv juga semakin tak jelas ternyata betis juga mulai tegang dan sedikit nyeri karena asam urat. Ya Tuhan... Seperti inikah rumitnya memenuhi beragam keinginan keinginan sementara kemampuan diri sangat terbatas. Mengapa tak kupilih saja duduk sambil mengawasi tinggi air dilantai dengan membiarkan tv berceloteh atau sekalian dimatikan saja. Atau kutinggal dan kubiarkan saja air tergenang hingga membasahi semua lantai dapur, kemudian ku duduk dengan mendengarkan serius pemberitaan di tv. Tapi sebenarnya yang kuinginkan sambil mengawasi air agar tidak semakin meluap saja sekaligus menonton tv hingga tidak ketinggalan berita. Rumit memang. Atau inilah hidup dengan oenuh keterbatasan.
Pikiran dan ingatan lalu tertuju pada seorang lelaki setengah baya yang sering kupanggil John. Setiap hari dengan sepeda bututnya berkeliling kompleks tempatku tinggal memunguti sampah. Bagaimana si John menjalani hidupnya yang mungkin tak serumit yang kuhadapi. Bisa jadi John memungut sampah tapi tak punya keinginan untuk nonton tv. Kalaupun iyya, paling juga memungut sampahnya ditunda saja. Ini juga saya bisa tebak karena pernah kulihat John mamoir di sebuah warung sedang asyik nonton tv dan tidak menghiraukan sekelilingnya, membiarkan sampah dipulung pemungut sampah lainnya, bahkan tak menyapaku sedikitpun. Atau sekali waktu kulihat John asyik memungut sampah ditengah tengah teriakan teriakan penonton sepak bola di tv. Sama sekali tak terpengaruh dan tetap saja sibuk mengurusi sampah sampah penonton yang baginya adalah rejeki.
Apa yang berbeda? Mangapa terkadang orang sepertiku sulit menentukan prioritas apa yang harus didahulukan. Mengapa John lebih mampu menjalani setiap prioritasnya. Atau bisa jadi bukan persoalan siapa yang lebih mampu menetukan skala prioritas pekerjaan antaraku dan John. Tapi bisa jadi John tidak lebih serakah dariku. Bisa jadi aku selalu ingin "begini" sambil melakukan "itu", sementara John hanya melakukan "ini", dan melakukan "itu" pada waktu yang lain. Mungkin John lebih paham jika melakukan pekerjaan secara bersamaan tidak akan memperoleh hasil yang baik. Entahlah. Tapi sore ini hujan dan tv masih saja dua hal yang menggangguku.

0 comments:

Posting Komentar